Menang Dua Kali Proyek Alat TB Rp14,2 M, Gatra Pertanyakan Negosiasi E-Katalog Dinkes Kota Tangerang
Tangerang, bantentren.com — LSM Garda Aktif Tangerang Raya (Gatra) melayangkan surat permohonan audiensi kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang. Langkah ini diambil guna mempertanyakan transparansi pengadaan alat deteksi Tuberkulosis (TB) bernilai hampir Rp14,2 miliar yang bersumber dari APBD dua tahun anggaran berturut-turut.
Berdasarkan data pengadaan resmi, Dinkes Kota Tangerang mengalokasikan anggaran APBD tahun 2025 sebesar Rp7,24 miliar untuk pengadaan lebih dari 27 ribu unit Genexpert Xpert MTB/RIF Ultra Assay Kit. Paket pengadaan tersebut tercatat telah selesai diserahterimakan.
Namun pada tahun anggaran 2026, Dinkes kembali menganggarkan belanja katrid Tes Cepat Molekuler (TCM) sebanyak lebih dari 26 ribu unit senilai Rp6,94 miliar. Proyek yang kini masih berproses tersebut kembali dimenangkan oleh penyedia yang sama, yakni PT Medquest Jaya Global.
Ketua Gatra Tangerang Raya, Barna, menyoroti konsistensi penunjukan penyedia serta transparansi mekanisme negosiasi harga dalam sistem e-katalog daerah.
”Yang kami pertanyakan, apakah ada proses negosiasi harga untuk efisiensi, atau hanya mengikuti harga yang dipajang di e-katalog saja? Harus ada penjelasan transparan dari Kepala Dinas,” tegas Barna.
Selain efisiensi anggaran, Gatra menyoroti skema distribusi reagen dari pemerintah pusat. Barna menyebut pengadaan peralatan medis jenis tersebut umumnya dikelola dan didistribusikan secara terpusat oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI ke daerah.
”Mengapa Kota Tangerang justru membelinya menggunakan APBD? Apakah pasokan dari pusat tidak turun, atau pasokan pusat ada namun daerah tetap belanja lagi? Jika benar demikian, ini bukan sekadar pemborosan, melainkan potensi duplikasi anggaran,” ujarnya.
Gatra juga mempertanyakan akurasi perencanaan kebutuhan medis Dinkes Kota Tangerang. Pengadaan berskala besar pada tahun sebelumnya dinilai seharusnya mampu memenuhi kebutuhan operasional jangka panjang, sehingga belanja ulang dalam rentang waktu singkat memicu spekulasi terkait efektivitas distribusi dan penyerapan barang di lapangan.
”Kami ingin tahu data pasti berapa penderita TB di Kota Tangerang pada 2025 dan sebarannya di 13 kecamatan. Jangan sampai hal ini menimbulkan spekulasi atau ketidakakuratan data pasien di lapangan,” pungkas Barna.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang belum memberikan tanggapan resmi terkait surat permohonan audiensi maupun sorotan anggaran tersebut.
Red