Oplus_131072
Tangerang Selatan, bantentren.com – Ratusan warga Cipeucang melakukan aksi blokade terhadap truk pengangkut sampah yang menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, Kota Tangerang Selatan, pada Selasa (22/12) malam. Aksi ini dipicu oleh kondisi TPA yang dinilai telah melampaui batas kapasitas (overload) hingga 200 persen dan mengancam kesehatan serta keselamatan lingkungan sekitar.
Darurat Sampah di Tangerang Selatan
Kondisi TPA Cipeucang saat ini berada pada titik kritis. Perwakilan warga, Sessile Ramasapitri, mengungkapkan bahwa lahan yang tersedia hanya mampu menampung sekitar 400 ton sampah per hari. Namun, kenyataannya volume sampah yang dipaksakan masuk mencapai 800 hingga 1.000 ton setiap harinya.
”TPA Cipeucang sudah tidak relevan lagi untuk dipertahankan. Kami menuntut penutupan permanen dan langkah darurat nyata dari pemerintah, bukan sekadar janji,” tegas Sessile di sela-sela aksi.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan yang Nyata
Warga menyoroti berbagai dampak buruk yang mereka rasakan secara langsung, di antaranya:
Pencemaran Udara: Bau menyengat yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan pernapasan.
Kerusakan Ekosistem: Kali Cirompang kini tersumbat tumpukan sampah, yang mengakibatkan banjir rutin ke permukiman warga saat intensitas hujan tinggi.
Kompensasi Tidak Manusiawi: Warga menilai dana kompensasi sebesar Rp250.000 per tahun per Kepala Keluarga (KK) sangat menghina rasa keadilan. Angka tersebut dianggap tidak cukup untuk menutupi biaya pengobatan atau risiko kesehatan jangka panjang akibat polusi.
Tuntutan Warga kepada Pemerintah
Warga mendesak Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk segera mengambil langkah konkret, yaitu:
Solusi Jangka Pendek: Pemindahan segera tumpukan sampah yang meluap dan penyediaan layanan kesehatan gratis bagi warga terdampak.
Solusi Jangka Panjang: Penutupan permanen TPA Cipeucang dan percepatan pengadaan lahan baru yang sesuai standar lingkungan.
Warga menegaskan bahwa aksi blokade ini hanyalah permulaan. Jika pemerintah tidak segera memberikan solusi nyata dalam waktu dekat, warga mengancam akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar hingga aspirasi mereka dipenuhi.






