
SERANG, BANTENTREN.COM – Pendistribusian makanan dari dapur SPPG ke setiap Sekolah di wilayah Serang Timur pada bulan Suci Ramadhan, diduga tidak sesuai pemenuhan gizi dan nilai harga yang ditentukan dalam dianggarkan.
Menjadi sorotan Iyan Kusyandi, pria akrab di sapa Iyan Baduy yang merupakan aktivis Serang Timur, hal ini disampaikan pada awak media, pada Selasa (24/2/26).
Menurut Iyan, Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif nasional yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2025 untuk menyediakan makanan sehat bergizi bagi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan menyusui.
Dan bertujuan mengatasi stunting dan meningkatkan SDM, program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional dengan target 55 juta penerima pada 2026 serta memaksimalkan potensi tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu untuk Indonesia Emas 2045
Pada Anggaran APBN 2025 mengalokasikan Rp71 triliun, di mana Rp51,5 triliun digunakan untuk belanja bahan makanan melalui Badan Gizi Nasional.
Tapi pada pelaksanaannya terutama yang diberikan pada anak sekolah, diduga banyak tidak layak, asupan gizi kurang memenuhi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Belum lagi dari makanan yang didustribusikam diduga tidak sesuai dengan harga yang sudah di tentukan, jauh dibawah,
Dikatakan Iyan, hal ini berdasarkan temuan dilapangan yang berhasil dihimpun dari setiap sekolah ketika siswa menerima paket MBG tersebut.
Sangat disayangkan program ini diduga menjadi ajang bisnis bagi segelintir orang atau kelompok tertentu hal ini dapat dilihat dari beberapa yang mengelola dapur SPPG.
Tampak adanya ketidak terbukaan perihal anggaran serta tidak profesional dalam pengelolaan jelas terlihat di beberapa dapur SPPG yang ada.
oleh karena itu Iyan meminta Badan Gizi Nasional untuk segera melakukan evaluasi secara menyeluruh pada dapur SPPG yang diduga tidak menjalankan SOP serta tidak profesional dalam pengelolaannya.
“Ini bukan rahasia umum lagi, dugaan dalam program MBG makanan yang disajikan sering tidak layak konsumsi, seperti ada buah-buah ada sebagian yang sudah membusuk, roti dua hari sudah jamuran, nasi yang agak basi, telur rebus satu hari sudah bau, intinya jauh dari tujuan dalam pemenuhan asupan gizi, melainkan ajang bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan besar, dan merugikan penerima manfaat ” pungkas Iyan
HKZ




