
Tangerang, BANTENTREN.COM – Kembali Kritik tajam dilontarkan oleh Mantan ketua PAC Gelora Desa Cikasungka kecamatan Solear, kabupaten Tangerang terkait perlakuan pemerintah Daerah dan kadis DBMSDA yang dinilai Gagal total dalam pemerataan pembangunan Infrastruktur
Syafrudin, SM, seorang kritikus asal desa tersebut, menyatakan bahwa wilayahnya seperti “anak haram pembangunan” ungkap dengan Nada kesalnya
Ia menyebutkan, ”Kami ini bukan anak tiri dan wilayah kami juga bukan ramah lingkungan. Sudah 28 tahun kami hanya diminta dan disuruh bersabar, padahal yang kami tuntut cuma satu: Betonisasi jalan yang berlubang dan Menganga!”
Menurutnya, Bukit Cikasungka bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan simbol daerah yang dikerdilkan secara politik, dilewatkan dalam anggaran, dan di pinggirkan dalam keberpihakan.
”Kalau bicara pemerataan pembangunan, maka Bukit Cikasungka adalah bukti bahwa semua teori indah itu hanya hidup di seminar, bukan di APBD,” ucapnya.
wilayah kami yang tidak diakui secara infrastruktur, namun diminta untuk selalu taat membayar pajak dan menyumbang suara saat pemilu datang. “Suara Kami cuma dicari saat dibutuhkan. Tapi ketika lubang jalan kami penuh kubangan dan menganga, para wakil rakyat langsung lupa jalur Bukit Cikasungka, seakan akan GPS mereka hanya berfungsi lima tahun sekali,” sindirnya
Kritikan juga menyasar langsung Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid, kadis DBMSDA dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Ia menyebut mereka sebagai kolaborator pembiaran jika tidak segera menghadirkan tuntutan sebagai prioritas nyata.
Apa gunanya DPRD kalau tidak bisa memperjuangkan satu jalan strategis? Atau jangan-jangan mereka hanya jago bicara ‘RESES’ tapi tak bisa mengejar kata ‘Betonisasi’?
Kami sudah lelah dijanjikan proyek khayalan dan pendataan palsu. Kami butuh realisasi, bukan dokumentasi penuh senyum,” Ungkapnya
Ia juga menantang Bupati Tangerang terkait semboyan “Tangerang Gemilang”. “Kenapa Bukit Cikasungka masih berkubang dalam
lubang? Kami tidak butuh kata kata dalam pidato, tapi kami butuh Realisasi dalam bentuk nyata.
Om Rudy menutup dengan kalimat tegas: “Jalan di lingkungan kami Bukit Cikasungka RW 09 sudah rusak parah. Tapi akal sehat kami tidak. Dan kalau pemerintah daerah tak turun tangan, maka suara kami akan datang ke hadapan pemerintah daerah tanpa basa-basi.”
Sitinurjanah



